Berharap tidak mencintaimu..sangatlah sulit
Kau bukan orang jahat..aku yakin
Tapi aku..sangat dendam padamu
Tolong hentikan aku..
Biarkan semuanya berakhir..kau tidak boleh pergi
Cklek..!
“Papa!” Mia seketika menghambur kedalam rumah saat ia melihat keadaan ayahnya yang mengenaskan, terduduk di sebuah kursi dengan tali mengikat erat tubuhnya dan selembar plester membungkam mulutnya. Bisa terlihat dengan jelas beberapa luka sayatan di wajah dan kedua lengan ayahnya itu. Disudut ruangan tampak ibu Mia terduduk lemas dilantai bersama seorang laki-laki yang menjambak rambutnya. Ibu Mia mengerang kesakitan.
“ada apa ini ? apa yang kalian lakukan pada orang tuaku ? lepaskan mereka!” Mia memaki sambil menangis. “tanyakan sendiri pada mereka!” ucap seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari ayah Mia. “kumohon lepaskan mereka.” Mia terus terisak seraya berusaha melepas ikatan tali yang membelit ayahnya. Seseorang meraihnya dengan kasar. “menjauh! Jangan berusaha menyelamatkan mereka! Kecuali jika kau mau melakukan sesuatu demi orang tuamu.” Ucap laki-laki yang tadi meraih Mia. “apa mau kalian ?” tanya Mia dengan takut. “kau kami bunuh, maka orang tuamu akan selamat.”
***
Mia menyusuri koridor sekolah dengan perlahan. Tatapannya kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Kejadian kemarin sore saat sekolah usai dan ia kembali kerumahnya. Kejadian yang tidak pernah ia duga akan terjadi pada keluarganya. Kejadian yang selama ini hanya ia lihat di film. Sekarang menjadi kenyataan. Ia berharap ini hanya mimpi, tapi sayangnya ia sedang terjaga. Ini nyata.
Ia berharap tidak akan menyesal dengan keputusannya. Ia juga berharap tidak akan menyalahkan orang tuanya yang selama ini bekerja sama dengan gangster. Menyerahkan nyawanya sebagai penebus agar orang tuanya selamat. Ia berharap itu bukanlah hal buruk. Ya, Mia hanya bisa berharap.
“Mia, kamu sadar nggak sih ?” Brian mengguncang tubuh Mia yang sedari tadi tampak melamun. Mia tersadar dari lamunannya dan melihat kearah Brian. Namun sayang, mungkin Mia memang sedang sial hari ini, ia tidak menyadari ada tiang didepannya dan tiba-tiba..Bbrukk! kepala Mia mendarat dengan mulus di tiang. “Brian!” Mia meneriaki temannya itu.
“hahaha parah. Kamu lucu hahaha. Makanya kalo jalan liat-liat.” Timpal Brian sambil tertawa terbahak-bahak. Yang ditertawai hanya manyun dan melangkah menuju kelas. Brian menyusul gadis tersebut. “kamu nggak apa-apa ?” Tanya Brian ketika langkahnya sudah sejajar dengan Mia. “nggak apa-apa.” Jawab Mia menundukkan kepalanya. “sepertinya kamu nggak baik-baik aja deh, ada masalah ? serius kamu aneh, nggak biasanya kamu melamun sepanjang jalan kayak tadi.” Brian mengerutkan dahinya. “aku nggak apa-apa” jawab Mia sembari tersenyum dan meninggalkan Brian sendirian di koridor.
***
“Mia, kamu tidak perlu melakukan ini.” Ucap ibu Mia sambil terus menangis. Mia hanya diam. Tak berani menatap orang tuanya. Ia telah bersiap untuk pergi. Pergi demi menyelamatkan keluarganya. Ia meremas dress selututnya yang berwarna kuning sambil terus mengedipkan matanya. Ia menahan agar air matanya tidak lolos. Mia tidak ingin memperburuk keadaan. Ia tidak ingin orang tuanya semakin sedih. “aku tidak apa-apa. Jaga diri kalian baik-baik. Jaga pula Christine. Dia harus jadi gadis yang cantik dan bahagia suatu hari nanti.” Mia beranjak dari sofa, memeluk adik perempuannya dengan erat.
Tok, tok, tok. Suara pintu rumah keluarga Claire. Seseorang telah datang. Mia menatap kearah pintu dengan kaget dan takut. Perlahan ia melepas pelukan pada adiknya dan melangkah menuju pintu. “Mia, jangan tinggalkan kami!” seru ibunya histeris. Kali ini Mia tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis. Mia memegang kenob pintu, bersiap membukanya. Cklekk.. seorang pria dengan tinggi sekitar 180 cm, berambut coklat gelap dan berhidung mancung, berdiri dihadapannya bersama dengan dua orang lain yang tidak setinggi pria tadi, tapi badannya besar. Sepertinya bodyguard pria tersebut.
“tu..tu..tuan Kevin.” Ucap ayah Mia terbata-bata. Mia tidak mengerti dengan situasi ini. “dimana gadis yang akan kubunuh ?” ucap pria tersebut sambil tersenyum licik kemudian menatap Mia. Mia menatap pria itu seram. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanan. “oh, rupanya gadis itu sudah dihadapanku. Bawa dia!” ucap pria tersebut pada kedua bodyguard nya. Mia diseret keluar dari rumahnya menuju mobil pria tersebut. “lepaskan aku! Kumohon. Aku ingin bicara pada keluargaku!” tangis Mia.
Terlambat. Semuanya sudah terlambat. Setelah ini Mia akan mati. “Mia! Tidak! Anakku! Jangan bunuh anakku!” ibu Mia terus menangis. Ia berusaha mengejar mobil yang membawa Mia pergi, namun percuma. Mia benar-benar telah pergi.
***
08.00 a.m di markas Longitude.
Mia terus menundukkan wajahnya. Ia tidak tahu dimana dia berada saat ini. Suasana bangunan ini begitu asing. “selamat datang di markas Longitude.” Kevin meraih segelas wine dan meneguknya hingga tak bersisa. “siapa namamu ?” Tanya Kevin sambil meraih wajah Mia agar mau menatapnya. Mia sulit membuka mulutnya. Ia terlalu takut untuk bersuara. Lidahnya kelu. “jawab!” bentak Kevin. “na..na..namaku Mia.” Jawabnya sambil terisak, tapi ia merasa sedikit lega. “tidak buruk.” Kevin memperhatikan wajah Mia dengan seksama. “kau terlalu muda untuk mati. Dan kau juga tidak jelek.” Ujar Kevin sambil melangkah menjauh dari Mia untuk mengambil segelas wine. “baiklah, aku akan buat rencana B. Tommy, bawa gadis ini keruangannya. Suruh dia mandi dan berganti pakaian. Dia harus segera siap untuk misi pertamanya.” Setelah menyelesaikan ucapannya Kevin kembali meneguk winenya.
Seorang pria berwajah manis yang tingginya tidak bisa disamakan dengan Kevin mendekati Mia dan tersenyum padanya. “ayo kuantar. Ikuti aku.” Ucap pria bernama Tommy itu melangkah mendahului Mia. Sambil terus mengikuti langkah Tommy, Mia bertanya-tanya dalam benaknya. Inikah gangster yang bekerja sama dengan papa ? siapa Kevin ? apa dia ketua Longitude ? berapa umurnya ? ia tampak begitu muda, tidak mungkin dia ketua dari sebuah kelompok hebat. Tapi dia memerintah Tommy. Bisa jadi ia seorang leader. Kevin sangat muda…dan tampan. Kenyataan yang mengerikan jika ia seorang gangster..
To Be Continued..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar